Tampilkan postingan dengan label Analisa Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Analisa Hidup. Tampilkan semua postingan


08 rumah kita heri ireng cepu blora
Hanya bilik bambu tempat tinggal kita. Tanpa hiasan tanpa lukisan. Beratap jerami beralaskan tanah. Namun semua ini punya kita. Memang semua ini milik kita sendiri. Hanya alang-alang pagar rumah kita. Tanpa anyelir tanpa melati. Hanya bunga bakung tumbuh di halaman. Namun semua ini punya kita. Memang semua ini milik kita. Haruskah kita beranjak ke kota. Yang penuh dengan tanya. Lebih baik di sini. Rumah kita sendiri. Segala nikmat dan anugerah Yang Kuasa. Semuanya ada di sini. Rumah kita.


06 penantian heri ireng cepu blora
“Hampa, terasa jiwaku. Di malam yang sunyi. Menantikan datangnya matahari pagi. Resah menanti saat hilangnya kemelut yang menerpa diriku di sepanjang waktu. Gelisah hati ini sewaktu kusadari. Apakah hidup ini dalam menanti semua hanya sementara.”
“Kutatap diriku di dalam cerminku. Sejenak ku terkejut menyadari langkahku. Pedih sanubariku merenung sesaat menghadapi kenyataan yang tak dapat kulukiskan. Gelisah hati ini sewaktu kusadari. Apakah hidup ini dalam menanti semua hanya sementara.”



07 yang tersendiri heri ireng cepu blora
Terhempas ku terjaga dari lingkar mimpi pada titik sepi. Suaramu terngiang menembus khayalku yang juga tentangmu. Dan kuakui tanpa kemunafikan. Kucinta kau. Bahwasannya keakuanku bersumpah. Kucinta kau.
Bayangmu menghantui setiap gerakku dan kemauanku. Dahagaku akanmu matikan emosi juga ambisiku. Dan kuakui tanpa kemunafikan. Kucinta kau. Bahwasannya keakuanku bersumpah. Kucinta kau.


05 Salah itu Tidak Ada heri ireng cepu blora
Pernah sesekali kita merasa sakiiit banget karena merasa kecewa terhadap seseorang. Sangat kecewa masih pakai banget, masih pakai sekaliii. Sudah diperjuangi, diandalkan, diyakini benar akan membawa kebaikan bagi kita. Namun kenyataannya malah sangat mengecewakan. Kadang bukan hanya mengecewakan. Menyakiti hati kita lewat ucapan, lewat tulisan, lewat sikap. Kadang sikap itu memang disengaja untuk ditunjukkan pada kita, bahwa orang yang tadinya kita beri kepercayaan tersebut sengaja ingin membuat kita lebih terluka.


04 menuntut Tuhan heri ireng cepu blora
Pagi ini ada saudara yg update status BBM, “Janganlah kau tuntut Tuhanmu karena tertundanya keinginanmu, tetapi tuntutlah dirimu sendiri karena engkau telah menunda adabmu kepada Allah”. Sebuah rangkaian kalimat indah bagi orang yang beriman. Selemah apapun iman itu. Sebajingan apapun. Selama masih percaya sama Tuhan, maka masih bisa dikategorikan beriman.
Menuntut Tuhan? Merasa kelahiran di dunia adalah kesalahan Tuhan. Tidak segera mencabut nyawa juga ketidak perdulian Tuhan. Tidak terkabulnya keinginan yang terucap lewat doa karena Tuhan cuek sama kita. Perbedaan ras, warna kulit, keadaan fisik, kisah hidup, kebendaan juga karena ketidakadilan Tuhan. Masih bagus mengkambing hitamkan takdir Tuhan, daripada menyalahkan orang tua, pemerintah atau penguasa.
Pertanyannya, memang ada orang seperti itu?


03 kebenaran dan pembenaran heri ireng cepu blora
Diiringi lagu “Cinta” yang dinyanyikan Anang & Krisdayanti, saya menuliskan posting ini. Tulisan ini sangat subyektif sekali. Begitu juga dengan isi blog ini. Sangat subyektif. Demi kepentingan saya sendiri tentunya. Tidak akan mampu menuntun ke arah kebenaran. Hanya mencoba menghibur Anda yang sedang mencari pembenaran. Atas tindakan Anda. Saya tahu bahwa Anda sedang bingung. Atau sangat jenius. Maka Anda sampai terjerumus membaca postingan ini.
Kebenaran adalah milik orang banyak. Tak akan terlepas dari tata norma. Segala norma dan dogma. Karena norma pada dasarnya “baik”. Begitu juga dengan dogma. Maka ketika telah bersikap subyektif, membiarkan diri bertindak di luar tata norma, sudah pasti divonis “nakal”, “jahat”, “tidak baik”. Akibatnya, pikiran ikut terpengaruh menjadi “merasa bersalah”. Merasa tidak orang lagi. Merasa tidak pantas hidup. Merasa pantas mendapat hukuman atas subyektifitas yang telah dilakukan.
 
© 2012. DM-B- BT BS