Hanya bilik bambu tempat
tinggal kita. Tanpa hiasan tanpa lukisan. Beratap jerami beralaskan tanah.
Namun semua ini punya kita. Memang semua ini milik kita sendiri. Hanya
alang-alang pagar rumah kita. Tanpa anyelir tanpa melati. Hanya bunga bakung
tumbuh di halaman. Namun semua ini punya kita. Memang semua ini milik kita.
Haruskah kita beranjak ke kota. Yang penuh dengan tanya. Lebih baik di sini.
Rumah kita sendiri. Segala nikmat dan anugerah Yang Kuasa. Semuanya ada di sini.
Rumah kita.
Tampilkan postingan dengan label Analisa Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Analisa Hidup. Tampilkan semua postingan
“Hampa, terasa jiwaku. Di
malam yang sunyi. Menantikan datangnya matahari pagi. Resah menanti saat
hilangnya kemelut yang menerpa diriku di sepanjang waktu. Gelisah hati ini
sewaktu kusadari. Apakah hidup ini dalam menanti semua hanya sementara.”
“Kutatap diriku di dalam
cerminku. Sejenak ku terkejut menyadari langkahku. Pedih sanubariku merenung
sesaat menghadapi kenyataan yang tak dapat kulukiskan. Gelisah hati ini sewaktu
kusadari. Apakah hidup ini dalam menanti semua hanya sementara.”
Terhempas ku terjaga dari
lingkar mimpi pada titik sepi. Suaramu terngiang menembus khayalku yang juga
tentangmu. Dan kuakui tanpa kemunafikan. Kucinta kau. Bahwasannya keakuanku
bersumpah. Kucinta kau.
Bayangmu menghantui setiap
gerakku dan kemauanku. Dahagaku akanmu matikan emosi juga ambisiku. Dan kuakui
tanpa kemunafikan. Kucinta kau. Bahwasannya keakuanku bersumpah. Kucinta kau.
Pernah sesekali kita
merasa sakiiit banget karena merasa kecewa terhadap seseorang. Sangat kecewa
masih pakai banget, masih pakai sekaliii. Sudah diperjuangi, diandalkan,
diyakini benar akan membawa kebaikan bagi kita. Namun kenyataannya malah sangat
mengecewakan. Kadang bukan hanya mengecewakan. Menyakiti hati kita lewat
ucapan, lewat tulisan, lewat sikap. Kadang sikap itu memang disengaja untuk
ditunjukkan pada kita, bahwa orang yang tadinya kita beri kepercayaan tersebut
sengaja ingin membuat kita lebih terluka.
Pagi ini ada saudara yg
update status BBM, “Janganlah kau tuntut Tuhanmu karena tertundanya
keinginanmu, tetapi tuntutlah dirimu sendiri karena engkau telah menunda adabmu
kepada Allah”. Sebuah rangkaian kalimat indah bagi orang yang beriman. Selemah
apapun iman itu. Sebajingan apapun. Selama masih percaya sama Tuhan, maka masih
bisa dikategorikan beriman.
Menuntut Tuhan? Merasa
kelahiran di dunia adalah kesalahan Tuhan. Tidak segera mencabut nyawa juga
ketidak perdulian Tuhan. Tidak terkabulnya keinginan yang terucap lewat doa
karena Tuhan cuek sama kita. Perbedaan ras, warna kulit, keadaan fisik, kisah
hidup, kebendaan juga karena ketidakadilan Tuhan. Masih bagus mengkambing
hitamkan takdir Tuhan, daripada menyalahkan orang tua, pemerintah atau
penguasa.
Pertanyannya, memang ada
orang seperti itu?
Diiringi lagu “Cinta”
yang dinyanyikan Anang & Krisdayanti, saya menuliskan posting ini. Tulisan
ini sangat subyektif sekali. Begitu juga dengan isi blog ini. Sangat subyektif.
Demi kepentingan saya sendiri tentunya. Tidak akan mampu menuntun ke arah
kebenaran. Hanya mencoba menghibur Anda yang sedang mencari pembenaran. Atas
tindakan Anda. Saya tahu bahwa Anda sedang bingung. Atau sangat jenius. Maka
Anda sampai terjerumus membaca postingan ini.
Kebenaran adalah milik
orang banyak. Tak akan terlepas dari tata norma. Segala norma dan dogma. Karena
norma pada dasarnya “baik”. Begitu juga dengan dogma. Maka ketika telah
bersikap subyektif, membiarkan diri bertindak di luar tata norma, sudah pasti divonis
“nakal”, “jahat”, “tidak baik”. Akibatnya, pikiran ikut terpengaruh menjadi
“merasa bersalah”. Merasa tidak orang lagi. Merasa tidak pantas hidup. Merasa
pantas mendapat hukuman atas subyektifitas yang telah dilakukan.
Langganan:
Postingan (Atom)









